Diri ini memang jauh dari kata sempurna
Segala pada diriku semuanya terbatas
Tetapi bukan berarti dengan keterbatasanku ini
kau bisa menyakitiku hingga aku merasa, aku tak sanggup lagi
**********
Tuhan
Mengapa Kau prtemukan aku dan dia,
jika kini pertemuan itu membuatku tersiksa?
Mengapa Kau hadirkan dia dikehidupanku,
jika kini hidupku menjadi hancur karenanya?
Mengapa Kau hadirkan senyumnya dihadapanku,
jika kini aku tak mampu melupakan senyumannya itu?
Kini aku tersiksa
Karena aku tak mampu menghapus bayangnya dibenakku,
Illahi Rabbi
Aku harus bagaimana.?
**********
Disaat aku membutuhkanmu,
kamu pergi
Disaat aku mengharapkanmu untuk ada disampingku,
kamu menghilang
Disaat diri ini lemah dan terluka,
kau tak pernah ada
Inikah balasanmu padaku,
yang selalu ada untukmu di saat kamu membutuhkan aku?
Inikah balasanmu untukku,
yang tak pernah letih mencintaimu walaupun kau terus menerus menorehkan luka di hatiku?
Inikah balasanmu terhadapku,
yang selalu mengalah melawan keegoisanmu?
Aku yang berharap kau dapat menjaga hati ini agar tak berujung rapuh, malah kau tancapkan panah kepedihan, yang akhirnya hati ini menjadi lumpuh.
**********
Inilah aku.
Yang selalu mencurahkan apa yang aku rasa menjadi sebuah puisi. Puisi yang aku tulis itu semuanya kenyataan, karena aku benar-benar merasakannya. Sudah banyak puisi yang aku hasilkan akibat rasa perih yang aku rasa, dari mulai puisi sakit hati karena di khianati, dibohongi dan di lukai dengan berbagai cara.
Aku mencurahkan semuanya ke dalam sebuah puisi, karena aku tak pernah bisa berbagi atau menceritakan masalahku kepada orang lain. Aku selau memendamnya sendiri, tanpa ingin orang lain tahu apa masalahku.
**********
Entah mengapa hawa malam ini begitu panas kurasakan, padahal di luar hujan turun dengan derasnya. Mungkin ini disebabkan karena hatiku yang tak pernah bisa tenang. Hatiku remuk redam tertimpa batu cobaan yang begitu berat. Aku tak pernah mengerti mengapa hidupku seperti ini, cobaan demi cobaan seperttinya tak pernah berhenti menerpa hidupku. Tapi aku yang bernama Tami, bisa menerimanya dengan ikhlas, kecuali cobaan yang aku terima kali ini.
**********
Hujan mulai mereda.
Aku mencoba membuka jendela kamarku untuk sekedar merasakan hembusan angina malam, aku merenung di bawah sinar rembulan yang mulai tampak ketika hujan pergi.
Tak terasa air mataku jatuh membasahi pipi.
Aku tak kuat lagi, aku ambruk di lantai dan menangis sejadi-jadinya, dan sejak saat itu hatiku tak pernah berhenti menangis.
Rasa sakit hati ini berawal, ketika aku bertemu dan mengenal dirinya lagi, sebut saja dia Riki.
Aku mengenal dia sejak aku duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar, selama 3 tahun aku bersamanya dalam 1 kelas, dan selama itu juga dia tak pernah ramah padaku, karena waktu itu aku adalah saingannya yang dia takutkan akan merebut gelar juara kelasnya.
Padahal andaikan dia tahu, aku sebenarnya tak pernah menginginkan gelar itu, karena aku sudah cukup bngga mendapat peringkat ke 2 di kelasku. Sampai akhirnya, tepat ketika pertengahan kelas 3, aku pindah dari sekolah itu, karena masa kerja Ayahku di daerah itu telah habis dan di pindah tugaskan di daerah yang kini menjadi tempat tinggalku sekarang.
Sejak kepindahan itu, sampai aku duduk di bangku SMA, aku tak pernah tahu bagaimana keadaan dia dan tak pernah bertemu dia lagi, bahkan aku mungkin hampir melupakannya jika tak ada seorangpun yang mengingatkanku akan dia.
Tapi aku beruntung, ada seseorang yang membuka memoriku lagi tentang dia,
Kejadiannya begini.
Pada suatu hari, di saat jam istirahat sekolah, seperti biasa aku dan teman-temanku menuju kantin untuk memberi makan cacing-cacing penghuni perut kami yang sudah
sejak jam pertama minta diisi, ketika sedang asyik-asyiknya memilih makanan, salah satu temanku memanggilku dan aku menghampirinya, kemudian dia bertanya.
“Mi, kenal sama yang namnya Riki ngga?,temen kamu waktu Sekolah Dasar dulu?”.
Aku terdiam, Riki…?, siapa fikirku, tapi aha !, aku mengingatnya.
“Iya-iya aku ingat, memangnya kenapa?, kok kamu kenal sama dia, kenal dari mana?”
“Oh…dia temen aku waktu SMP, ketika aku masuk SMA ini dia bertanya, kalau SMA tempat aku sekolah sekarang, ada yang namanya Tami ngga?,aku bingung soalnya waktu itu aku agak lupa-lupa ingat sama kamu, maklum kitakan beda kelas, hehe...maaf ya…, tapi setelah aku ingat-ingat aku kenal sama kamu, terus aku bilang deh sama Riki kalau aku kenal sama kamu, dan dia minta nomor ponsel kamu, boleh?”.
“Duh..aku ngga hafal nomor ponsel aku, gimana kalau nomor dia aja yang kamu kasih ke aku, entar aku yang ngehubungin dia?”.
“Oh…boleh”, jawab dia.
Lalu dia memberikan nomor ponsel Riki padaku, dan aku tak sabar untuk segera menghubunginya. Aku ingin tahu bagaimana dia sekarang, berubah ngga ya…fikirku dalam hati.
**********
Sesampainya di rumah aku segera menghubunginya, hampir semalaman aku dan dia saling berkirim pesan singkat.
Dan ternyata dia berubah, kini dia menjadi ramah padaku, ternyat usia bisa merubah segalanya. Mulai detik itu hampir setiap hari Riki selalu menghubungi aku, hingga pada suatu waktu dia berhasil mencuri hatiku.
Sejak saat itu tubuhku serasa direngkuh oleh sayap-sayap cinta yang tanpa aku sadari bahwa dibali sayap-sayap itu terdapat pedang-pedang kepedihan yang bisa kapan saja mengiris hati ini,
Ternyata itu benar.
Perlahan-lahan sayap-sayap itu mengeluarkan pedang-pedang kepedihannya, karena kebahagiaan yang aku rasa hnya sekejap aku rasakan. Hari demi hari sifatnya kian berubah, akupun tak mengerti mengapa dia bisa berubah secepat itu.
Sifatnya yang dulu baik dan pengertian, berubah menjadi seseoarang yang begitu angkuh, egois dan tak pernah memikirkan perasaanku, bahkan aku menagispun dia tak peduli, dan sejak saat itulah aku berubah, seorang Tami yang biasanya selalu tersenyum, kini berubah menjadi Tami yang begitu pendiam.
Riki tak pernah menghiraukan bagaimana sakitnya aku,
Hari demi hari dia torehkan luka di hatiku karena keegoisannya, sudah tak terhitung berapa kali aku menangis karenanya.
Teman-temanku yang mengenal Riki mengatakan.
“Beruntung ya kamu bisa dapetin pacar sepintar Riki”.
Aku hanya bisa tersenyum.
Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka juga tak tahu bahwa dibalik senyumku tergores luka hati yang begitu pedih.
Hanya sedikit dia memberikan manisnya madu cinta kepadaku, selebihnya dia menebarkan racun-racun kepedihan di hati ini.
Dan malam ini adalah puncaknya rasa sakit yang dia berikan, dia menduakan cintaku lagi untuk yang kesekian kali.
Aku lelah disakiti, aku bosan memberikan maaf baginya.
Memang, kemarin-kemarin aku masih bisa memaafkan semua kesalahannya, berusaha tabah dan berharap dia akan berubah.
Tapi dia tak pernah bisa berubah, dia selalu mengulang semua kesalahan yang dia perbuat, yang sudah tak bisa aku hitung berapa kali dia mengulang semua kesalahannya itu.
Malam ini aku sudah tak sanggup lagi, bayangkan…dia menduakan aku, dan aku melihat bukti-bukti semua itu.
**********
Jilbab yang aku kenakan telah basah oleh air mataku.
Angin malam menjadi saksi bisu atas jatuhnya jiwa ini.
Lalu aku mendekap Al-Qur’an di dadaku, dengan air mataku yang masih mengalir, aku berdo’a.
“Ya Tuhan…
Aku tak sanggup lagi menahan siksaan batin yang Kau berikan padaku, kemarin aku masih bisa bersabar dan mencoba untuk tabah.
Seberapa berat cobaan yang Kau berikan, aku bisa menerimanya dengan ikhlas.
Tapi untuk cobaan Kau kali ini, aku tak mampu lagi untuk bersabar, aku tak sanggup lagi untuk mencoba tabah.
Aku hanya berharap satu pada-Mu,
Aku ingin kembali pada-Mu,
Aku tak sanggup,
Aku tak mampu,
Aku tersakiti,
Aku terkhianati oleh orang yang aku kasihi”.
Dengan masih terisak, aku melanjutkan do’a aku yang terakhir.
“Demi Allah Ya Tuhan…
Aku yang dulu selalu berusaha tegar dan tabah,
Kali ini aku tak sanggup lagi untuk hidup,
Bawa aku pergi ke tempat yang tak lagi mengenal rasa sakit hati,
Demi Allah…
Kali ini aku menyerah….”
**********
Beberapa detik kemudian tubuhku serasa diselimuti oleh cahaya sang rembulan.
Rasa pedihku berangsur hilang, hilang dan hilang.
Aku ambruk di lantai dengan Al-Qur’an di pangkuanku.
Di sisa-sisa nafasku bibir ini bergerak mengucapkan kalimat syahadat dengan lirih, dan,
“Terim kasih Tuhan, Kau mengabulkan do’aku”.
Lalu….
Gelap….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar